Iman Kepada Allah
Iman Kepada Allah adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan Kitab Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Rahimahullah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Dr. Iqbal Gunawan, M.A Hafidzahullah pada Rabu, 3 Jumadil Awal 1448 H / 14 Oktober 2026 M.
Kajian Islam Tentang Iman Kepada Allah
Pembahasan aqidah merujuk pada keterangan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits Jibril. Ketika itu, Malaikat Jibril mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan menyerupai seorang laki-laki. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan kejadian tersebut:
شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ, لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ
“Pakaian orang tersebut sangat putih, rambutnya sangat hitam, tidak terlihat tanda-tanda bekas perjalanan jauh padanya, dan tidak ada seorang pun yang mengenalnya.”
Lihat: Hadits Arbain Ke 2 – Pengertian Islam, Iman dan Ihsan
Seandainya orang tersebut merupakan penduduk Madinah, tentu para sahabat telah mengenalnya. Sebab, jumlah penduduk Kota Madinah pada masa itu belum banyak. Sebelum perkembangan teknologi modern, masyarakat dalam satu wilayah saling mengenal satu sama lain meskipun berjarak cukup jauh. Demikian pula para sahabat pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka saling mengenal sesama penduduk Madinah. Hal yang menarik perhatian adalah tidak terlihat bekas perjalanan jauh pada diri orang tersebut, padahal ia bukan warga setempat.
Laki-laki tersebut kemudian mendekat, menyandarkan lututnya pada lutut Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta meletakkan telapak tangannya di atas paha Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seraya meminta penjelasan tentang Islam. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lantas menjelaskan rukun Islam.
Selanjutnya, Malaikat Jibril meminta penjelasan mengenai iman:
أَخْبِرْنِيْ عَنِ الإِيْمَانِ
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:
أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
“Iman adalah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir baik dan buruk.” (HR. Muslim)
Rukun iman ini wajib diyakini oleh setiap muslim, baik secara global maupun terperinci sesuai dengan ilmu yang sampai kepadanya secara terperinci. Keimanan mencakup perkara-perkara yang bersifat global dan terperinci. Setiap perkara iman yang sampai secara terperinci wajib diimani. Pengenalan dan pemahaman ajaran agama secara terperinci akan semakin menguatkan keimanan. Umat Islam dituntut untuk terus belajar, menambah ilmu, serta memperkuat iman agar tidak mudah goyah oleh syubhat dan syahwat.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah mencakup keimanan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta takdir baik dan buruk. Setiap rukun iman tersebut memiliki perincian tersendiri. Semakin dalam pemahaman terhadap rincian-rincian tersebut, keimanan seseorang akan semakin kuat, mantap, dan tidak mudah terpengaruh oleh syubhat.
Perincian keimanan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dimulai dari rukun-rukunnya:
فَنُؤْمِنُ بِرُبُوْبِيَّةِ اللهِ تَعَالَى
“Umat Islam wajib beriman kepada rububiyah Allah ‘Azza wa Jalla.”
Makna rububiyah adalah keyakinan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Ar-Rabb (Tuhan), Al-Khaliq (Maha Pencipta), Al-Malik (Maha Memiliki), dan Al-Mudabbir (Maha Mengatur segala urusan). Makna rububiyah mencakup keimanan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla merupakan Penguasa, Pemilik seluruh alam semesta, Pencipta segala sesuatu, serta Pengatur seluruh perkara.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلِلّٰهِ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
“Dan milik Allah segala kerajaan langit dan bumi.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 189).
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:
وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ
“Dan Dia menciptakan segala sesuatu.” (QS. Al-Furqan[25]: 2).
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
اَللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ
“Allah pencipta segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar[39]: 62).
Di alam semesta ini hanya ada Al-Khaliq dan makhluk. Selain Al-Khaliq, seluruhnya adalah makhluk. Dzat yang menciptakan hanyalah Allah ‘Azza wa Jalla, dan Dia memiliki segala sesuatu.
Rububiyah berarti mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam seluruh perbuatan-Nya, mencakup penciptaan, kepemilikan, dan pengaturan.
Jika ada yang mengaku menciptakan sesuatu, maka penciptaan itu hanya bermakna perubahan bentuk, bukan mengadakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Hal ini sebagaimana perkataan Nabi Isa ‘Alaihis Salam yang diabadikan dalam Al-Qur’an:
…أَنِّي أَخْلُقُ لَكُمْ مِنَ الطِّينِ كَهَيْئَةِ الطَّيْرِ فَأَنْفُخُ فِيهِ فَيَكُونُ طَيْرًا بِإِذْنِ اللَّهِ…
“Aku membuatkan untukmu dari tanah sesuatu yang berbentuk burung, lalu aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan izin Allah.” (QS. Ali ‘Imran[3]: 49).
Penciptaan oleh manusia atau makhluk lainnya bukanlah mengadakan dari tidak ada menjadi ada, melainkan hanya mengubah bentuk atau bahan yang sudah ada, seperti mengubah kayu menjadi pintu atau merangkai energi menjadi listrik.
Menciptakan sesuatu dari tidak ada menjadi ada hanya dapat dilakukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Tidak ada seorang pun yang mampu menciptakan lalat atau semut selain Allah ‘Azza wa Jalla.
Dahulu ada seseorang yang mengaku mampu menciptakan ulat. Ketika ditanyakan cara ia menciptakan ulat tersebut, ia mengambil sepotong daging lalu mencampurnya dengan kotoran manusia atau hewan, kemudian menyimpannya. Setelah dibiarkan beberapa hari, muncul ulat-ulat pada tempat tersebut, sehingga ia mengklaim telah menciptakan ulat-ulat itu. Saat ditanyakan mengenai jumlah ulat yang muncul, waktu kelahiran, serta waktu kematian ulat-ulat tersebut, ia tidak mampu menjawabnya. Pencipta sesuatu secara nyata tentu mengetahui seluruh rincian atas apa yang diciptakannya. Hal ini membuktikan bahwa tidak ada pencipta selain Allah ‘Azza wa Jalla, dan tidak ada pemilik sejati atas segala sesuatu kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.
Manusia memang dapat memiliki harta, rumah, atau kendaraan, tetapi kepemilikan tersebut sifatnya sangat terbatas. Manusia tidak berhak bertindak sekehendak hatinya terhadap harta maupun jasadnya, melainkan harus tunduk pada aturan Allah ‘Azza wa Jalla. Hal ini menunjukkan keterbatasan kepemilikan manusia. Seluruh penggunaan harta kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat:
مِنْ أَيْنَا اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ
“Dari mana harta tersebut diperoleh dan ke mana harta itu dibelanjakan.” (HR. Tirmidzi).
Pengaturan yang dilakukan manusia juga sangat terbatas, sedangkan Allah ‘Azza wa Jalla adalah Pengatur segala sesuatu. Tidak ada yang mengingkari rububiyah Allah ‘Azza wa Jalla kecuali orang-orang ateis dan kelompok dahriyyin yang beranggapan bahwa segala sesuatu terjadi dengan sendirinya tanpa pencipta. Mereka meyakini pandangan yang diabadikan dalam Al-Qur’an:
وَما يُهْلِكُنا إِلاَّ الدَّهْرُ
“Tidak ada yang membinasakan kita melainkan masa.” (QS. Al-Jatsiyah[45]: 24).
Mereka juga berpendapat bahwa kehidupan hanyalah proses lahir dari rahim-rahim ibu dan berakhir dengan ditelan oleh bumi. Padahal, orang-orang musyrik pada zaman jahiliah pun mengakui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Pencipta mereka.
Keimanan terhadap rububiyah Allah ‘Azza wa Jalla merupakan fitrah dasar yang ditanamkan pada setiap manusia. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ
“Setiap anak melahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)
Seorang anak yang dilahirkan tanpa dipengaruhi oleh ajaran luar akan menyembah Allah ‘Azza wa Jalla serta meyakini bahwa tidak ada yang menciptakan, mengatur, menghidupkan, dan mematikan alam semesta kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.
Setiap muslim wajib meyakini bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Dzat yang menciptakan segala sesuatu, memberi rezeki, memiliki, mengatur, menghidupkan, serta mematikan. Oleh karena itu, sandaran hidup dalam seluruh urusan harus ditujukan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Allah ‘Azza wa Jalla telah menentukan rezeki dan mencatat seluruh takdir di Lauhul Mahfuzh sejak 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.
Apabila terdapat ketetapan atau pengaturan Allah ‘Azza wa Jalla yang dirasa berat, seorang hamba hendaknya menyerahkan seluruh urusan tersebut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sikap berprasangka baik (husnuzhan) kepada Allah ‘Azza wa Jalla harus senantiasa dijaga disertai keyakinan bahwa setiap kehendak-Nya mengandung hikmah di baliknya. Usaha yang maksimal tetap perlu dilakukan dengan senantiasa tunduk pada aturan Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Allah ‘Azza wa Jalla.
Hal tersebut merupakan esensi dari keimanan kepada rububiyah Allah ‘Azza wa Jalla, yaitu meyakini bahwa Allah ‘Azza wa Jalla adalah Pencipta, Pemilik, dan Pengatur segala sesuatu. Di antara nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Al-Hakim (Maha Bijaksana). Setiap aturan dan takdir yang ditetapkan Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa mencerminkan kebijaksanaan serta hikmah-Nya.
Bagaimana pembahasan lengkapnya? Mari download dan simak mp3 kajian yang penuh manfaat ini.
Download MP3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Mari turut membagikan link download kajian tentang “Iman Kepada Allah” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.
Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com
Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :
Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56630-iman-kepada-allah-2/